Story 1
“Satu empatpuluhempat ribu, ini dua, sama minuman kaleng ini, jadi semuanya sembilan puluh lima ribu, Bu.” Aku membantu si ibu menghitung belanjaanku, satu pagi, selesai berlari 5K mengitari lapangan tanah liat itu. Kedai kecil si ibu, di seberang lapangan, tersembunyi di samping “toko-mart” yang mencolok. Dua sosok tertidur di lantai, si ibu menunjuk, “Mereka jaga semalam, warung ini buka terus-terusan, malam-malam ada aja yang butuh rokok, kopi, sabun shampo.” Ada kulkas berisi aneka minuman aneka merk di samping kanan luar kedai, sachet-sachet aneka minuman aneka merk tergantung, lemari kaca dengan aneka rokok aneka merk, dua keranjang plastik berisi roti di atas lemari kaca, “yang ini titipan, yang ini beli.” Sorot mata keibuannya, suara lembutnya mengalir perlahan, “Terima kasih…” Ya Bu. “Terima kasih sudah belanja.” Ketulusan. Kesungguhan hati. Bukan sekadar basa-basi. Aku tersenyum, “Terima kasih Bu”, melangkah pergi. Bahagia.
Story 2
Aku menginjak perlahan rem di lintasan pelataran parkir basement mall itu. Dalam jarak yang aman dan nyaman, perempuan muda itu menyeberang tenang, menggandeng anak gadisnya, sembari menganggukkan kepala, ucapan terima kasih. Di belakangnya, menyusul mbaknya mendorong kereta bayi. Dan di belakangnya lagi, mbak lainnya menggandeng anak gadis lainnya, sedikit lebih tinggi, berambut panjang hitam terurai, tampaknya kakak dari gadis pertama tadi. Ketika telah menyeberang, gadis terakhir kita melepaskan gandengan mbaknya, membalikkan badan, menghadap ke mobilku, membungkuk!, sebelum berlalu menyusul ibunya. Di dalam mobil, aku terperanjat, sontak bersorak, tersenyum. Untuk gadis itu, gadis sekecil itu. Bahagia.
Story 3
Langit masih gelap, supir taksi itu, selesai sholat di mesjid dekat rumahku, menyapa ramah, bersiap mengantarku ke bandara Halim. “Tidak perlu lewat toll ya Pak, jalanan masih sepi”, dari rumahku di kawasan Jakarta Barat. Respek. Selanjutnya, perjalanan kurang dari setengah jam itu penuh dengan kisahnya, enam belas tahun pengalamannya, mirip mendengarkan podcast, seru dan unik.
Sepagi ini, pukul lima, aku adalah penumpang keduanya. Taksi berlabel bandaranya, yang dia lebih memilih tidak mangkal, karena jalanan lebih menjanjikan dibanding mangkal menunggu berjam-jam, yang kadang kalau sedang apes, setelah mangkal 2-3 jam, hanya mendapat penumpang ke hotel sekitar bandara (argo sekitar 30.000-an) atau bahkan dari satu terminal ke terminal lain di bandara (argo sekitar 15.000-an), yang tidak bisa ditolak, “Tetap ikhtiar saja, mungkin kalau dapat perjalanan jauh, malah ada apa-apa.” Mungkin karena ikhtiar itu, banyak juga cerita baiknya, cerita dapat penumpang jauhnya, yang kadang malah bisa bolak balik, rumah penumpang ke bandara pulang pergi, entah karena penumpangnya ketinggalan kunci rumah atau ada urusan keluarga mendadak. Atau cerita tidak menolak penumpangnya ke tujuan Serang, malam hari, jauh dari pool-taksi -nya di Bekasi, namun di perjalanan pulang malah mendapatkan penumpang persis ke tujuan di sebelah pool-nya. Selang seling dengan cerita penumpang yang setelah turun taksi, memintanya menunggu di mulut gang, lalu hilang tak kembali tanpa membayar. Atau penumpang yang benar-benar menghilang, perempuan bergaun putih yang naik taksinya, ketika tiba di tujuan ternyata tidak ada di bangku belakang. Dan ibu “si perempuan” keluar rumah menemuinya, membayar argonya, dan mengatakan hal itu sudah biasa, untuk anaknya yang telah meninggal dunia itu. (Aku mendadak merinding.)
Sayangnya perjalanan pagi itu terlalu lancar, kami tiba di bandara. “Jangan ada yang ketinggalan ya, Pak. Sehat-sehat selalu, Pak Nicky.” Terima kasih Pak, sehat-sehat selalu juga. Bahagia.
NH